Wednesday, February 5, 2014

A little Story to Tell in Early 2014






Hi all! Akhrnya gw punya kesempatan untuk kembali menulis Blog yang sudah lama gw terlantarkan ini. I’m freakin miss writing. Belakangan ini banyak hal besar terjadi dalam hidup gw. Mulai dari perubahan status single ke ganda campuran, kembali menjadi anak kost,  sampai promosi pekerjaan yang menyebabkan neuron-neuron otak gw harus bekerja lebih keras lagi. But thanks God hari ini jalan depan kostan gw kebanjiran. Kenapa thank God kebanjiran? Karena at least hari ini gw bisa sejenak mengistirahatkan otak dan kembali menulis. Dari kemarin banyak banget yang mau gw share, akhirnya kesampaian juga J




Kali ini gw mau cerita soal persiapan pernikahan gw bulan OKtober 2013 kemarin. Yups fellas I have a ring on my finger now. Well actually I have four now on my fingers, tiga cincin gaul dan satu cincin kawin J Iyah gw tau cincin gw banyak banget, no judgment here ok? Now back to the topic. Where shall we start yah… Let’s start with the wedding preparation. Yups buat elo yang udah married dan mempersiapkan pernikahannya tanpa bantuan event organizer pasti tahu rusuhnya bagian ini. Well me and my wife have gone this as well. Kami menikah dengan persiapan yang bisa dibilang singkat, hanya sekitar  6 bulan kurang lebih, dengan biaya sendiri, outdoor wedding concept, tanpa wedding organizer-but thanks God kami dibantu oleh teman-teman yang luar biasa. Wah pokoknya ribet seribet ribetnya deh. Apalagi soal biaya, saat itu bener-bener bikin pusing kepala. Ternyata pernikahan simple dengan tamu sekitar 150-200 orang lumayan bikin kantong kami semaput.

Saat Bimbingan pra nikah dengan our pastor, Ko Cahyo, di salah satu sesinya kami diminta untuk menghitung penghasilan kami berdua kemudian membandingkannya dengan biaya persiapan pernikahan dan biaya hidup berkeluarga. Dan dengan suksesnya the result is: kami bisa mengadakan pernikahan sederhana dan setelah menikah kami berdua perlu bekerja untuk mensupport hidup kami plus anggota keluarga lain yang kami biayai. This reality hit us quite hard, bukan karena pernikahan sederhana nya – since first kami memang ingin pesta pernikahan yang simple; tapi karena sampai sebelum sesi ini, gw berpikiran keuangan gw cukup stabil untuk membiayai hidup kami berdua sekalipun istri gw tidak bekerja, sehingga istri gw bisa mengejar passionnya di bidang make up dengan memulai kursus kecantikan dan becoming a make up artist. Oh iyah Fyi, istri gw saat itu bekerja sebagai tax person selama kurang lebih 6 tahun di salah satu perusahaan spring bed nasional yang cukup besar, but it’s not her passion. It’s not her calling. Dia dulu kuliah di  teknik industri di Maranatha (tambah nggak nyambung kan?) dan bekerja di sana simply karena diterima di sana. 

Salah satu impian gw adalah istri gw bisa do things yang sesuai dengan callingnya. Karena gw percaya setiap orang didesign untuk melakukan hal yang spesifik di hidupnya. Gw percaya seseorang diciptakan untuk berdampak besar dalam suatu bidang spesifik selama hidupnya. Ini yang dibilang dengan sweet spot. Calling. Passion. Dan saat seseorang berperan di sweet spotnya dia akan menghasilkan karya-karya luar biasa. Berdampak luar biasa. Berdampak bagi hidup orang lain. So kenyataan kalau istri gw harus tetap bekerja di bidang yang bukan passionnya untuk mensupport hidup kami is suck. Gw bergumul untuk hal ini. I want my wife to be extraordinary in her life.

Di sisi lain saat itu gw masih menjadi pribadi yang khawatiran. Terutama soal uang dan masa depan. Sedari kecil gw didoktrin untuk jadi orang kaya, banyak uang, supaya nggak hidup susah. Gw cukup sering merasa tidak cukup sekalipun sebenarnya I’m quite fine. Ditambah lagi dengan kenyataan pahit hasil sesi pemeriksaan keuangan di bimbingan pra nikah, makin tambah khawatirlah gw. Gw tau gw nggak seharusnya khawatir soal masa depan karena Tuhan pasti kasih yang terbaik. Gw sangat sering mendengar khotbah mengenai ini. Dan sebenarnya gw sadari ataupun tidak, God has shown me that He’s taking a really good care of me through chapters in my life. But somehow gw nggak sadar soal pemeliharaan Tuhan ini. Somehow gw bebal.

You know guys, orang yang khawatiran cenderung over stressed dan bergantung pada kekuatannya sendiri? Dan terkadang Tuhan membiarkannya sampai akhirnya orang yang khawatir ini mentok sementok mentoknya dan has no other way than go Up? I was that person. Selama 6 bulan persiapan pernikahan, gw lumayan stress memikirkan soal keuangan sekalipun gw bilang ke semua orang kalau everything is fine. Gw berusaha do my way sekeras mungkin dan buntu, yang akhirnya malah bikin gw tambah khawatir.  Dan akhirnya gw stuck, tersungkur, dan nggak punya jalan lain selain ke Atas.

The good news is God never close His ears for prayer. Dia seperti nunggu gw berhenti sebelum Dia bertindak. Bukan karena Dia tega ngeliat gw kelimpungan dulu, tapi gw percaya untuk nunjukin kalau apa yang terjadi berikutnya adalah murni karya Dia bukan karena usaha dan kekuatan gw. Just by a sudden, Dia melakukan berbagai percepatan di hidup gw. Gw dipromosikan menduduki jabatan yang cukup senior di perusahaan tempat gw bekerja. Hal keuangan, sweet spot istri gw, kekhawatiran hidup sesudah pernikahan; Tuhan yang beresin semuanya. Yang Tuhan lakukan melebihi apa yang bisa gw pikirkan dan bayangkan, even in my wildest dream J and you know what? Istri gw sekarang resmi menjadi murid CIBTAC make up course di Puspita Martha! God is Amazing!

Gw dan istri belajar banyak dari persiapan pernikahan kami. Bukan cuma soal mempersiapkan pernikahan. Tapi belajar soal percaya. Belajar soal Iman. Belajar soal mengucap syukur. Belajar melihat segala hal yang terjadi di dalam hidup sebagai kemurahan dan kebaikan Tuhan. Belajar soal berserah. Belajar soal dua roti dan lima ikan. Belajar soal siapa Tuhan yang gw sembah. Gw sekarang nggak lagi khawatir soal masa depan dan keuangan. Bukan karena sekarang kami kaya raya, tapi karena gw tau Tuhan yang gw sembah tidak akan membiarkan. He's been there to help and He always will.  Sekalipun prediksi mengatakan 2014 akan jadi tahun yang sulit secara keuangan dan kehidupan, keluarga kami berani bilang we’re going to be fine with God by our side.  Don’t be afraid folks, Jesus is bigger than problems!

No comments:

Post a Comment