Friday, September 28, 2012

The Namibian Lady is not Guilty!



Akhirnya setelah ketinggalan premier film "Babies" plus tiket gratisan dari kantor, dua hari yang lalu gw berhasil menuntaskan rasa penasaran gw dengan nonton film dokumenter tentang mahluk menggemaskan ini bersama seorang teman. Good documentary movie. Sekalipun tanpa dialog, tapi tidak terasa membosankan (mungkin karena dimanjakan dengan wajah-wajah innocent) dan jelas jalan ceritanya. Selama kurang lebih 1,5 jam, suasana bioskop lebih mirip dengan ruang keluarga di rumah. Ada diskusi kecil di bangku penonton, seruan-seruan gemas terpeson dengan keimutan tingkah pola 4 bayi dari 4 negara. Sepanjang film, bisokop penuh dengan:

"Aaaaah..."

"Oooooh..."


"Ya ampun Lucunnnyyyaaaa..."


Dan baru kali ini kondisi yang tidak hening ini nggak mengganggu gw, padahal gw termasuk silent audience yang beranggapan kalau nonton itu kudu tenang. Malah menurut gw,suasana "Rumah" ini sangat cocok dengan nuansa filmnya. Anyway, bukan resensi film yang mau gw tulis di notes ini. Sekalipun I'm a movie freak dan cukup peduli dengan kualitas film, gw merasa ada orang lain yang lebih tepat buat ngasih penilaian untuk film dokumenter ini.

Hal yang menarik buat gw selama film berlangsung adalah reaksi penonton. Sementara reaksi teman dekat gw adalah mata berbinar-binar plus senyum selalu menghiasi bibirnya (mungkin plus iler jg,tp berhubung agak gelap jadi nggak keliatan ;b), reaksi penonton lain pun nggak jauh berbeda. Salah satu yang mencuri perhatian gw adalah celetukan "Ih jorok!!!" saat scene seorang ibu dari Namibia memberi anaknya Asi dengan duduk di tanah berdebu,tanpa baju, tanpa celana, dan pastinya tanpa tetek bengek ritual sterilisasi. Sang Ibu merawat anaknya dalam lingkungan dan cara yang jauh dari terminologi "Bersih" menurut orang Indonesia.

Padahal kalo dipikir lebih jauh, nggak mungkin ibu penyayang itu akan membahayakan nyawa buah hatinya, termasuk dalam hal kebersihan dan cara membesarkan anak. So kesimpulannya,bukan Ibunya yang tidak peduli tapi standarnya yang berbeda. Apa yang buat kita adalah kotor, buat si Ibu itu biasa saja di Namibia. Tapi karena kita melihat dari persepsi kebersihan Indonesia (padahal jelas-jelas Indonesia nggak bisa dibilang bersih juga ;b),kita dengan dahi berkerut menilai si Ibu keterlaluan. Kita memandang dengan kacamata yang berbeda. Seandainya kita tau kacamata apa yang dipakai si ibu,mungkin kita akan punya pandangan yang berbeda tentang situasinya. Pandangan yang lebih luas tentang pribadinya. Pandangan yang lebih lengkap tentang keseluruhan ceritanya.

Kadang-kadang (kalo nggak mau dibilang sering) kita menilai orang lain berdasarkan persepsi yang kita miliki,yang sometimes berbeda dengan orang lain. Ini alami, natural, nggak bisa diapa-apain karena pasti kita menilai based on our field of knowledge and experience (jadi inget mata kuliah pengantar ilmu komunikasi :)). Tapi saat kita bersikukuh memaksakan pandangan kita karena kita menganggap it's the ultimate truth tanpa melihat dari sudut pandang orang lain, disinilah masalah muncul. Dalam tingkatan yang beradab kita akan menemukan diskusi. Dalam tingkatan yang extreem kita akan bertemu dengan fanatisme. Sayangnya kategori yang kedua lumayan banyak, nggak heran dunia susah damai.

Gw tau ada beberapa hal yang sifatnya nggak bisa dikompromikan atau nggak ada bukti solid secara statistik atau ilmiah -mungkin itu prinsip, iman, atau apapun itu-, tapi bukan berarti nggak bisa menghormati perbedaan kan? Menurut gw yang diperlukan bukan keseragaman,tapi kemampuan menghargai perbedaan. Keseragaman total nggak mungkin terjadi, kecuali elo tinggal di negeri Smurf dan bersedia bergabung dengan kumpulan mahluk biru muda bercelana dan bertopi putih. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk mengatakan "gw nggak setuju,tp gw menghargai pandangan elo". Seandainya saja setiap orang mau berusaha sedikit lebih keras untuk nerapin hal ini, pasti dunia akan setidaknya sedikit lebih indah.

Bottom line, I'd like to say: the Namibian Lady is not Guilty! Case is closed.

No comments:

Post a Comment