Friday, September 28, 2012

Sampah yang Bersyukur


William Rathje adalah seorang ahli sampah lulusan universitas Harvard. When I wrote "ahli" here,it does mean literally. William mengenal sampah seperti dokter bedah jantung mengenal katup trikuspidalis, memahami sampah seperti arsitek mengenal struktur bangunan, menguasai sampah seperti musisi mengenal harmonisasi nada, mempelajari sampah seperti orang Farisi mengenal taurat. Sampah adalah wilayah kekuasaannya. Sampah adalah hidupnya. Sampah adalah gairahnya. Gw membayangkan kalau William Rathje sejenis rotweiller, pasti buntutnya akan bergoyang-goyang hebat setiap kali melihat bak sampah.

And you know something,ternyata ada persamaan antara William Rathje dengan Yesus. Ada kemiripan antara sang ahli sampah dengan sang Pencipta Dunia. Apa persamaannya?
MENCINTAI SAMPAH. Iya, mereka berdua sama-sama mencintai sampah. Mereka melihat sampah dari sudut pandang berbeda, yang kadang tidak dipahami oleh orang lain, dipandang aneh oleh dunia. Mereka melihat emas saat orang lain melihat sampah.

Bagaimana mungkin Tuhan pencipta alam semesta mencintai sampah? Bagaimana mungkin Allah yang suci disandingkan dengan kenajisan? Bagaimana mungkin penghuni singgasana surga dikaitkan dengan ketidakkudusan? Well, kita bisa lihat dari kisah hidup-Nya. Lihat murid-murid-Nya. Lihat orang-orang yang menyenangkan hati-Nya. Lihat kepada siapa Dia berkenan.

List nama orang-orang yang dekat denganNya, sebagian besar pasti tidak akan akan kita temukan di dalam daftar sosialita jaman itu. Kebanyakan dari mereka bukan bangsawan, bukan kaum berada, bukan ilmuwan, bukan ahli agama. Mereka hanya orang biasa, warga kelas dua. Tidak ada label terhormat di jubah mereka, bahkan sebagian dari mereka dipandang sebagai penjahat. Memang kondisi lahiriah mereka tidak membuat mereka jadi sampah; lihat tingkah laku mereka dan hasilnya, daftar dosa yang jauh lebih panjang dari daftar belanjaan bulanan keluarga beranak 8.

Pemarah. Tanpa menghiraukan tawa riang, mereka dengan wajah kesal malah mengusir anak-anak yang mencoba mendekat.

Peragu. Sekalipun mereka telah melihat berbagai mujizat yang telah dilakukanNya, mereka tetap gemetar ketakutan menghadapi badai.

Pezinah. Tertangkap basah tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya, diarak dan dipermalukan ke tengah kota.

Pemalas. Tertidur saat diminta berjaga. Terlelap saat diminta bersiap.

Sombong. Masing-masing memandang diri sebagai orang yang pantas duduk di sebelah kanan Bapa di Sorga.

Pengkhianat. Salah satu muridNya menjual Yesus demi 30 keping perak, sementara yang lainnya dengan gagah berjanji setia sampai mati, kemudian lari tunggang langgang meninggalkan Yesus sendirian dalam kepungan prajurit.

Inilah orang-orang yang dekat dengan Yesus. Inilah wajah murid-murid Nya. Inilah daftar orang yang berkenan di hati-Nya. Inilah daftar orang yang Dia bersedia mati demi menyelamatkan hidup mereka. Inilah wajah gw, dan mungkin wajah kalian.

Entah dengan kalian, tp gw melihat diri gw di list itu. Tinggal ganti anak-anak dengan macet dan gw adalah pemarah. Ganti badai dengan masa depan atau isi rekening,dan gw adalah peragu. Ganti tidur dengan pronografi,dan gw adalah pezinah. Ganti merasa diri pantas dengan membusungkan dada dan mendongakkan kepala, dan gw adalah si sombong. Ganti 30 keping perak dan lari tunggang langgang dengan kesibukan dan ilah lain,dan gw adalah penghianat. Some of those was my past and some am still working on my every step day by day.

Gw bukan orang suci. Gw bukan nabi. Gw bukan Rasul. Gw bukan pendeta. Gw bukan aktivitis gereja atau organisasi agamawi. Gw adalah manusia biasa yang setiap hari kudu berjuang mati-matian buat hidup dengan lebih benar. Gw nggak kebal dosa,setiap detik gw masih bergumul untuk ngebuat hidup gw lebih berkenan buat Dia. Gw sama berdosanya kaya orang lain.

Tapi gw bersyukur karena Tuhan yang gw punya cinta sampah.

Gw punya Tuhan yang sayang sama gw apa adanya, sekalipun Dia menolak membarkan gw menjadi seadanya.

Tuhan yang nggak peduli sekalipun gw tattoan sekujur badan, yang ngeliat hati gw lebih dari penampilan gw.

Tuhan yang nggak peduli masa lalu gw, tp ngeliat potensi masa depan gw.

Tuhan yang nggak jauh,tp ada di dalam gw.

Tuhan yang nggak budeg,tp dengar setiap doa gw bahkan ngerti apa yang gw rasain.

Tuhan yang hidup bukan mati.

Tuhan yang nganggap gw lebih penting dari Sorga, bahkan lebih penting dari nyawaNya.

Dan buat elo-elo yang ngerasa nggak pantas dihargai,nggak pantas disayangi, yang merasa diri sampah, gw cuma mau bilang...Yesus sayang sama elo, karena Dia ahli sampah :)

No comments:

Post a Comment